Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2009

Si Seksi yang Bisa Ganggu Reproduksi

. Selasa, 24 Februari 2009
25 komentar


Celana ketat nan trend!

tak selamanya berbuah penampilan menarik dan seksi pada wanita.
Dengan penampilan seperti itu; justru bahaya bisa mengancam pemakainya.
Bahaya itu berupa penyakit keputihan yang kebanyakan jadi momok kaum Hawa ini.


KEPUTIHAN merupakan masalah kesehatan reproduksi wanita yang sering dialami. Normalnya, keputihan ini tidak berwarna atau bening, tidak berbau, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan keluhan. Biasanya meningkat pada masa menjelang ovulasi, stress, emosional, dan saat terangsang secara seksual.

Begitu disampaikan ahli kandungan dr. Prita Muliarini SpOG. "Penyebab keputihan banyak faktor. Itu penting diketahui karena keputihan tidak normal bisa memicu kanker serviks," ucap Prita.
Namun dari perkembangan ter-baru, berdasarkan hasil penelitian Gaya Hidup sebagai Pemicu Terjadinya Keputihan Bentlang, yang baru saja ia selesaikan, penyebab keputihan juga ba¬nyak terjadi dari gaya hidup.

Celana Ketat Bikin Lembab Vagina
Diketahui faktor gaya hidup yang terdiri dari gaya berpakaian, bekerja, kebiasaan terhadap kebersihan lingkungan (sanitasi) dan pemakaian obat-obatan berpengaruh besar terhadap prevalensi keputihan.
"Kontribusi gaya hidup terha¬dap prevalensi keputihan sebesar 76%. Jadi cukup besar sekali dan perlu diwaspadai," ujar Prita.
Prita menyebut, kebiasaan menggunakan pakaian ketat ditambah dengan celana dalam nilon akan meningkatkan kelembaban dan suhu di daerah perineal (daerah bagian bawah Hang vagina). Kondisi itu bisa mempemudah tumbuh kembangnya jamur. Penggunaan busana kerja, seperti korset, stoking, atau pa¬kaian olahraga yang ketat dan terbuat dari bahan tidak menyerap keringat juga bisa menimbulkan keputihan.
Penelitian Prita itu mengguna¬kan metode survei dengan batasan ruang lingkup penelitian, wanita yang pernah mengalami ke¬putihan di Kota Malang. Sasaran penelitian terutama wanita Kota Malang yang pemah mengalami keputihan. Responden yang dilibatkan sejumlah 180 orang, terdiri dari 76 responden berusia 18-22 tahun dan 104 responden berusia 23-27 tahun.
Anggota badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat bagian reproduksi, ini menambahkan, bagi wanita yang sering mengguna¬kan pembersih vagina juga perlu mewaspadai. Karena tidak semua bakteri merugikan. Dan, secara alami, pada vagina sudah terdapat bakteri yang menyehatkan, karena berfungsi membunuh bakteri yang merugikan.
"Terlalu sering menggunakan sabun vagina akan mematikan bakteri yang menyehatkan. Selain itu, bahan kimia yang terkandung dalam sabun vagina dapat menyebabkan iritasi. Kare¬na kulit mulut rahim sangat tipis sehingga iritasi yang timbul dapat memicu abnormalitas sel" jelasnya.
Lebih lanjut Prita mengatakan, terlalu berlebihan menggunakan bahan bahan kimia tertentu juga dapat mengakibatkan keputihan. Misalnya larutan antiseptik yang digunakan untuk membilas da¬lam vagina." Jika digunakan ber¬lebihan dapat membunuh mikro-organisme dalam vagina dan akan menimbulkan mikro-organisme abnormal. Itu bisa menim¬bulkan inveksi di daerah vagi¬na," ujarnya.
Perlu diketahui juga, lanjut Pri¬ta, penggunaan obat-obatan ter¬tentu dalam waktu lama dan ber¬lebihan juga dalat mengakibat¬kan terjadinya keputihan. Pada beberapa keadaan tertentu seperti perubahan hormonal pada kehamilan dan penggunaan pil KB, obat-obatan seperti steroid dan antibiotik.
Dalam kesempatan ini Prita menyarankan, untuk membersihkan organ intim sebaiknya menggunakan pembersih yang tidak mengganggu kestabilan pH di sekitar vagina. Salah satunya produk pembersih yang terbuat dari bahan dasar susu. Lebih penting juga, menghindari pe¬makaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina harum dan kering sepanjang hari.
"Bedak memiliki partikel-partikel halus yang mudah terselip di sana-sini dan akhimya mengundang jamur dan bakteri bersarang di tempat itu (vagina)," ucapnya. Penting juga, selalu mengeringkan bagian vagina sebelum berpakaian dengan menggunakan celana dalam yang kering. (hap/nen/war) Radar Malang-Edisi 19-Peb-09’


Klik disini untuk melanjutkan »»

Pilih Ketat biar Lebih Press Body

.
32 komentar

GEJOLAK krisis finansial yang mengguncang dunia memang sempat melumpuhkan berbagai sentra industri. Bahkan, imbasnya sampai saat ini tetap dirasakan, Salah satunya industri garmen yang mengandalkan bahan baku impor. Tidak sedikit industri garmen yang kolaps karena tertekan tingginya biaya operasional. Tidak sedikit juga karyawan yang berada di ambang PHK (putus hubungan kerja).
Kendati begitu, tampaknya perkembangan mode tetap tidak tergeserkan. Dari waktu ke waktu ada saja tren baru yang muncul. Baik di kota-kota besar seperti Kota Malang ini. Jika di era lahun 60-an mode yang tren adalah celana cut bray, maka era 1990-an sudah berganti dengan celana model pita atau lurus.

Lalu memasuki era 2000-an, ce¬lana model pita dengan desain hip¬ster atau celana tanpa ban masih cukup berjaya. Tapi kemudian, model itu pun tergeser dengan lagging alias celana berbentuk a-line press body karena bahannya dari kain jeans lentur.

Legging Lebih Cocok dengan Budaya Indonesia
Ada juga model legging dari bahan kain katun. Sampai saat ini legging rupanya mampu mengalahkan model-model cela¬na pendahulunya.
Terbukti, legging tak hanya dilirik kaum hawa saja, tapi juga para kaum adam. Puluhan gerai pakaian di Kota Malang, mulai yang industri fashion rumahan, distro, sampai mal juga diserbu model celana panjang yang satu ini. Dan tentu saja, banyak alasan kaum muda maupun tua menggilai legging. "Merasa lebih pede (percaya diri) saja," ujar Puspita Wardhani, salah satu mahasiswa PTN di Kota Malang.
Dibanding calana model lain, kata Puspita, koleksi legging-nya lebih banyak. Meski tidak sedikit juga celana biasa yang disimpan di dalam lemari pakaiannya. Namun, untuk pergi ke kampus atau acara lainnya, dia mengaku merasa lebih nyaman ber-legging.
Walaupun sebenarnya model ini lebih press body. "Yang penting enak dipakai. Saya tidak pernah berpikir bahwa legging sangat ketat dan menonjolkan bentuk kaki," bebernya.
Senada dengan Puspita, Rini Widyastuti juga mengatakan sedang demam legging. Padahal, sebelum celana itu keluar di pasaran, dia juga tidak pernah mencoba yang namanya bercelana ketat dan pas badan, "Awalnya hanya coba-coba karena keseringan lihat teman pakai legging. Kok kelihatan seksi," kata Rini yang juga mahasiswa di Malang.
Pengamat fashion asal Kota Malang Wiyani Damayanti tidak menyalahkan tren remaja wanita sekarang. Karena sebenarnya perputaran mode tidak pernah mengalami lompatan ekstrem. Dari waktu ke waktu, model celana panjang selalu befmula dari cut bray, kemudian beralih ke model kombor (kulot), model pita atau lurus, dan legging. "Ini sudah paten di dunia fashion. Tidak mungkin distributor melakukan lompatan model dengan melangkahi model seharusnya," beber lulusan ESMOD Paris, Francis, itu.
Untuk Indonesia, kata Wiyani, legging memang cukup populer. Padahal, jika melihat di negara-negara yang selama ini menjadi kiblat fashion, seperti Prancis dan Inggris, tren legging mulai bergeser dan digantikan model pita atau lurus. Pergeseran itu, menurut Yani - sapaan akrab Wiyani - tampak dari peragaan busana winter (musim dingin) beberapa waktu lalu.
"Jika mengikuti pergerakan mode, harusnya Indonesia-juga sudah bergeser pada model ce¬lana lurus yang tidak terlalu ke¬tat," terang wanita yang kini mengajar di sekolah Fashion bernama Lavalle International College, Surabaya itu.
Tapi rupanya, lanjut Yani, legging di Indonesia tetap berjaya. Mungkin itu karena permintaan customer sangat tinggi. Selain itu, mungkin karena legging lebih cocok dengan budaya Indonesia karena bisa menyentuh semua kalangan. Termasuk, para muslimah yang ingin tampil modis.
"Saya lihat banyak perempuan berjilbab mengenakan legging dengan atasan menutup sampai lutut. Cukup indah untuk dilihat," kata wanita yang menjadi designer part time di salah satu perusahaan garmen di wilayah Gresik ini.
Kondisi itu, kata Yani, juga sempat melanda Prancis era 1993. Saat itu, sepatu hak tinggi model wedges itu selama satu se-tengah dekade lebih tidak pernah tergantikan. Tapi, kini sepatu model wedges mucul lagi. "Per¬geseran tren sepatu atau sandal memang lebih lama, tapi kalau model fashion cepat bergulir," terangnya.
Melihat langgengnya model legging, Yani memprediksi mo¬del celana ketat a-line ini akan menjadi basic celana jeans mau¬pun kain di Indonesia. Artinya, ketika model telah bergeser, legging masih tetap menghiasi pasaran. (nen/hap/war)
Radar Malang-Edisi 19-Peb-09’

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
TovaZone is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com