Sabtu, 31 Juli 2010

MEMERANGI TEROR "BOM" GAS ELPIJI

. Sabtu, 31 Juli 2010

Pemerintah sejak tahun 2007 lalu gencar melakukan konversi (peralihan) penggunaan dari minyak tanah ke gas LPG (=elpiji). Alasan utama dibalik kebijakan konversi minyak tanah itu konon untuk penghematan subsidi BBM. Pemerintah melalui pertamina sampai akhir Juni lalu sudah mendistribusikan sekurangnya 44,6 juta tabung gas ukuran 3 kg dari target sekurangnya 55 juta pada tahun 2011.

Sayang, program konversi ini banyak menemui masalah. Yang paling menonjol adalah terjadinya banyak kasus ledakan. Sejak tabung elpiji 3 kg dibagikan secara gratis oleh Pemerintah tahun 2007, kasus ledakan tabung 'melon' (sebutan populer untuk tabung gas 3 kg) ternyata cukup tinggi. Ledakan gas 3 kilogram masih menjadi menu yang teratur disajikan saban hari. Bagaikan bom teroris, sambung-menyambung meletus setiap saat. Korban terus berjatuhan, entah meninggal dunia atau luka-luka bakar. Tidak hanya nyawa yang melayang, tetapi juga harta benda.

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab ledakan itu adalah kualitas tabung yang buruk, terutama katupnya, sehingga bisa bocor, juga kualitas regulator dan selang yang tidak memenuhi SNI. Penanganan tabung saat distribusikan juga sering buruk, bahkan aku melihat sendiri dengan seenaknya mengambil gas LPG tersebut dengan cara dilempar-lempar. Itu kan bisa memicu banyak tabung yang cacat.

Begitu seringnya terjadi ledakan gas elpiji tak ayal membuat para pengguna tabung gas ukuran 3 kg selalu merasa terancam. Tabung gas elpiji 3 kg seakan sudah menjelma jadi ancaman "bom" yang kapan saja bisa meledak, dan celakanya ada di dapur rumah kita. Tidak salah kiranya jika saat ini masyarakat sedang dihadapkan dengan teror "bom" gas elpiji.

Meski sudah banyak korban ledakan, respon Pemerintah terbilang amat lamban. Langkah Pemerintah baru terlihat dengan dibentuknya Tim Nasional setelah rapat koordinasi di Kantor Wapres, 29 Juni lalu. Namun, langkah nyata belum terlihat, kecuali Pemerintah telah menyiapkan regulator dan selang berstandar SNI sebanyak 10 juta paket, dan masyarakat bisa menukarkan yang lama dengan membayar sekitar Rp 35 ribu. Terakhir dikatakan tabung gas 3 kg akan ditarik.

Bangsa ini memang gemar mengatasi masalah dengan membentuk tim. Tim elpiji 3 kg hanya rajin rapat tanpa hasil nyata. Padahal ledakan gas tidak diselesaikan dengan rapat berhari-hari, tetapi memerlukan keberanian pemimpin mengambil sikap tegas dalam tempo cepat

Kita juga bertanya-tanya mengapa begitu banyak vendor yang terlibat dalam proyek konversi itu? Bayangkan saja 74 vendor tabung elpiji 3 kg, 32 vendor kompor, 15 vendor katup tabung, 13 vendor regulator, dan 15 vendor slang. Bagaimana pengawasannya di tingkat konsumen?

Kita menangkap kesan pemerintah selalu tidak cekatan dan tidak cukup cerdas menangani masalah yang terkait dengan rakyat kecil, tetapi begitu gesit ketika masalah menyangkut elite dan kaum berduit.

Nyawa rakyat kecil di negeri ini seolah-olah amat murah. Puluhan orang telah tewas, puluhan lainnya menderita luka-luka bakar dan mengerang kesakitan di rumah sakit. Masih kurangkah semua itu? Kurangkah seorang Rido Yanuar, bocah empat tahun asal Bojonegoro, Jawa Timur, yang kini berbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk menjalani operasi plastik karena wajahnya tersambar ledakan gas?

15 komentar:

Manchester United Tech mengatakan...

dulu bom dicari dan dimusnahkan sekarang bom malah dibagikan...

anak nelayan mengatakan...

semoga semua cepet diatasi sama pihak berwenang

Neng Ayu mengatakan...

Asslm,,,,

Kunjungan Balik nih Sob,
Thanks ya udah Berkunjung ke Rumahku…hehehe
Rumahnya (Blognya…red) tambah oke aja,
Gak bosen deh saya sempatkan untuk Datang ke Sini lagi..!!

Sob saya punya Blog baru nih,
Sempatkan untuk berkunjung ya, ini Rumah Baruku…
http://penyakitkankerpayudara.blogspot.com
http://obat-sakitgigi.blogspot.com
http://bisnisusahamakanan.blogspot.com


Salam Silaturahmi Blogger Indonesia,,,

Wasslm...

akhatam mengatakan...

Wahh kasihann sekali kalo di pikir.. kenapa sampe segitunya.. banyak menimbulkan korban dimana-dimana. Pemerintah juga gak cerdik! huhh.. Indonesia.. Indonesiaa..

Johnson Manurung mengatakan...

kalau sudah bicara masalah tender, maka hal yang paling sederhanapun menjadi sangat rumit ...

menambahkan form komentar klasik mengatakan...

negeri kita kaya akan minyak, namun rakyat selalu menjadi korban dari ide bisnis gas segelintir orang.. entah sampai kapan.

Muhammad Chandra mengatakan...

gara2 elpiji ini. .
saya sudah g bisa masak lagi. .
makasih atas info yg di atas. .

kalau berkenan,,kunjung balik bro...
salam:

Batch File Programming | Keajaiban Om Google | Dunia Tips dan Trick | Free Software

Harryrf mengatakan...

http://www.menumu.co.cc [MENUMU]
http://www.kumpulan-widget.co.cc [Kumpulan widget blog]

Tukeran link oom.
Link anda sudah masuk di Blog2 saya.

pulsagram mengatakan...

ternyata bom sudah ada di rumah kita masing2

tinggal bagaimana kita "memanfaatkannya"

souvenir pernikahan mengatakan...

ngeri sob liat berita tentang elpiji

berarti menyimpan bom di rumah

Blog Wanita mengatakan...

di samping pemerintah harus memerhatikan masalah tabung. kita sebagai rakyat juga harus belajar bagaimana mempergunkan / mengoperasikannya sesuai standart keamanan. karena tentu tidak selalu karena tabungnya yg menjadi sebabnya terjadi ledakan. mungkin si pengguna kurang faham penggunaanya

New Trik Tips Komputer mengatakan...

kita harus lbih hati"
kalo tercium bau gas, langsung matikan semua smber api

Museum mengatakan...

oh pemerintah sampai kapan begini...

Sports Shoes mengatakan...

salam kenal .
harusnya pemerintah sebelumnya mengecek keamanannya .
makasih .

post mengatakan...

sama-sama sop

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Silahkan Isikan Komentar Anda:

 
TovaZone is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com