Jumat, 16 April 2010

LANGIT MENDUNG DI TANAH KOJA

. Jumat, 16 April 2010

Beberapa hari ini di media massa baik elektronik maupun cetak tengah gencar2nya mengulas tentang tragedi yang ada di Priuk. Kita seolah terenyak dengan bentrokan fisik berdarah antara satpol PP (satuan polisi pamong praja) dan warga terkait dengan penertiban areal makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara, Rabu lalu (14/4). Sebab, kala kondisi politik mulai berangsur kondusif setelah selesainya penyelidikan kasus dana talangan (bailout) Bank Century di DPR, peristiwa yang memakan korban jiwa seperti itu malah terjadi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan harus turun tangan untuk menghindarkan membesarnya bentrokan dengan meminta para pemangku kepentingan, khususnya Pemprov DKI Jakarta, menghentikan penertiban kompleks bersejarah tersebut hingga situasi mereda, dengan kata lain permasalahan itu masih status Quo.

Yang patut dikritisi dari peristiwa itu bukan hanya sikap semena-mena aparat pemerintahan terhadap warga. Bukan pula kegigihan dan kengototan warga yang menolak relokasi kawasan yang dianggap milik leluhurnya tersebut. Melainkan, seberapa jauh komunikasi antara aparatur pemerintahan dan masyarakat. Andaikan komunikasi terjalin dengan baik, mungkin penertiban itu dapat berlangsung sesuai dengan harapan. Artinya, tidak ada yang bakal dirugikan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, baik warga maupun PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II yang disebut-sebut mengklaim diri sebagai pemilik sah kawasan tersebut.

Komunikasi tentu tidak sekadar berlangsung dengan bertemu, berbicara, dan bersepakat. Komunikasi merupakan proses bertemunya dua kepentingan yang melatari sebuah masalah. Nah, dalam konteks penertiban areal makan Mbah Priok, aparatur pemerintahan tidak sekadar menggunakan pendekatan kekuasaan, apalagi kekerasan, melalui satpol PP. Mereka seharusnya dapat memahami sekaligus menyelami perasaan warga yang amat berkepentingan dengan areal makam tokoh penyebar agama Islam di ibu kota tersebut. Di era yang serba beradab, proses dialogis dengan mengedepankan logika alias nalar menjadi panglima. Aparatur pemerintahan tidak harus menggunakan wajah seram untuk menjalankan kebijakan. Jika tetap menggunakan kekerasan, mungkin saja masyarakat meniru.

Sebaliknya, warga yang berurusan dengan aparatur pemerintahan selayaknya tidak bersikap egois dan mementingkan kelompok. Mereka harus toleran saat diajak berdialog demi kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bersama. Sebab, pada era modern sikap menang-menangan atau ngotot-ngototan sudah tidak punya tempat. Jika tetap bersikap demikian, sangat mungkin mereka tersisih dari pergaulan modern. Akhirnya, mari kita belajar lebih arif dan bijak untuk menghilangkan sisi kekerasan demi tercapainya kesejahteraan bersama.

33 komentar:

brijakartaveteran mengatakan...

surprise bisa yang pertama ...

brijakartaveteran mengatakan...

selama ini yang menjadi kelemahan dari aparatur Pemerintahan adalah kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.

Rizky2009 mengatakan...

nah itulah indonesia, dengan cara kekerasan dulu baru bisa menggugah pemerintah

berita untuk negri mengatakan...

saya kalau melihat di tv sepertinya sedih sekali,,seperti perang saudara

warnatulisan mengatakan...

sungguh mengkhawtirkan !!! kekerasan seolah-olah adalah hal biasa di negeri ini ...

sohibx rossi mengatakan...

emang komunikasi sangat diperlukan untuk memutuskan segala tindakan

intermezo mengatakan...

betul kang... komunikasi yang tidak bagus, apalagi untuk kata mufakat, kejadian dulu baru ada mediasi... waduh parah ya... :)

Gus Ikhwan mengatakan...

mungkin dengaqn cara kekrasan kita bisa menggulingkan pemerintahan ya
\mampir balik ya

Bayu Lebond mengatakan...

yang diutamain otot sih bung...bukan otak...

ina mengatakan...

masalah apa lagi di negeriku ini :(
hufth,,... kapan sih bisa aman, tenang dan damai???:(

Digital Baca mengatakan...

Semoga peristiwa ini tidak terulang lagi...
Amiiin....

lafa mengatakan...

waduh, semoga kejadian ini gak terulang lagi deh :)

aan mengatakan...

ada komunikasi yg terputus antara aparat dan warganya..
komunikasi dr sang pemberi SK dlm hal ini wagub DKI di teruskan dengan amat tidak baik alias ceroboh oleh satpol PP yang di amini oleh dirut PELINDO dan di panas-panasi oleh media..

hebat bukan??

tutorial blogger mengatakan...

STOP KEKERASAN!! kalau bisa diselesaikan dengan damai kenapa harus ribut....

budiawanhutasoit mengatakan...

saya tdk tau persis bagaimana proses rekruitmen anggota Satpol PP. tapi dari kejadian ini, dan juga kejadian2 sebelumnya, yg kerap berujung bentrok (masih inget sama kejadian yg memilukan anak seorang tukang bakso yg meninggal ketika diuber2 satpol kan)... bahwa EQ dan IQ dari anggota Satpol sangat rendah.
rata2 mereka mengedepakan OTOT daripada OTAK.
pola rekruitmen dan pendidikan Satpol PP harus dirubah (jika tdk ingin mengatakan : Bubarkan Satpol PP).

rizalsaputra81 mengatakan...

sedih nya melihat perang saudara, anda sudah aku follow, follow balik ya

BeDa mengatakan...

Kalau menonton mediasi yang disiarkan langsung di TV pada kamis 15/04 kemarin, ternyata pihak ahli waris melalui kuasa hukum telah meminta Komnas HAM menjadi mediator agar ada komunikasi seperti itu. Komnas HAM melayangkan surat ke Pelindo juga. Sayangnya tidak ada jawaban.

Komunikasi yang baik sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi lagi seperti 14/04 ini.

Salam ukhuwah

Mas Wawan mengatakan...

Tukar link n follow yuk? nanti sebaliknya?

heryanto mengatakan...

pada mau menang sendiri, ya gitu akibatnya.

akhatam mengatakan...

Hmm perlu adanya introspeksi diri mengenai hal-hal tersebut... Dan tidak selalu berbuat anarkis dan mengedepankan sebuah Perdamaian, serta musyawarah...

Willyo Alsyah P. Isman mengatakan...

mengunjungi sahabat ku di sing hari...semoga sehat selalu... Amin

irvan mengatakan...

Kalau udah ada korban baru deh pada mau kompromi kenapa ga dari awal aja ya ?
kayanya baru kali ini satpol PP nemu lawan yang lebih berani & banyak ga kaya sebelum2nya setiap ada penggusuran atau pembongkaran pasar

Salon Oyah mengatakan...

Klo menurut aq seehhh ... kayaknya ad unsur UUD dwech... alias Ujung Ujungnya Duit... wehehe... maaf, klo salah yeee...

rahmatea mengatakan...

prihatin.....bangsa kita makin terpuruk saja kalau begini terus.

Frank mengatakan...

ngeri melihat kejadian priukk..

Maya mengatakan...

Sangat Prihatin, kalau gini terus, bisa hancur bangsa kita ini.....

Author's mengatakan...

Link (banner) sobat udah dipasang di http://tips-mempercantik-blog.blogspot.com Lihat widget link exchange di sebelah kanan . Ditunggu backlinknya..

da2nkkuswata mengatakan...

sedih bgt ya......................

Aneh... memang aneh, aneeeh...........
sengketa masih berjalan KENAPA PEMERINTAH MENGIRIM PASUKANNYA KE TKP yaa..???

mhya unieq mengatakan...

seringkali hal itu terjadi, sangat disayangkan yah,,,,

unieqblog mengatakan...

semoga semua cepat berakhir ya,,,,Amiin...

mas doyok mengatakan...

ada oknum oknum yg sebabkan kayak gini mas

kasihan juga yg mau nikah sampai mati, dia cuma tugas

harusnya pemimpinnya saja pecat!

Mixed Fresh Info mengatakan...

Rakyat adalah orang yang mesti dilindungi bukannya untuk dijadikan musuh.Uang rakyatlah yang digunakan untuk membayar gaji para aparat negara jadi sewajarnyalah kepentingan rakyat yang diutamakan...

al-basri mengatakan...

saya juga terbaca berita ini di media Indonesia..
saya setuju dengan pendapat sobat, memang seharusnya komunikasi yang baik menjadi keutamaan.

terima kasih, semoga sejahtera selalu

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Silahkan Isikan Komentar Anda:

 
TovaZone is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com